IHSG Tergulung Krisis Eropa – Trade My Plan, Plan My Profit! What is Yours?
Jakarta, Selasa 25 Mei 2010
by Arinto Muha Admojo, Independent Investor
Saat artikel ini dibuat IHSG telah tergelincir -16% dari harga tertingginya 2,996 yang pernah dicapai di tahun ini delapan hari bursa lalu. Level tersebut berhasil menembus harga tertingginya di awal 2008 y.i. 2,838. Koreksi yang begitu tajam mengakibatkan index Indonesia ini turun dengan rata-rata -2% perhari. Banyak yang menulis atau memberitakan pelemahan index ini disebabkan oleh serangkaian peristiwa yang terjadi di dalam dan luar negeri. Dimulai dengan krisis surat utang Negara Eropa merebak pada akhir April 2010. Permasalahan gagal bayar yang terjadi di Yunani telah menjalar ke Negara-negara Eropa lainnya seperti Portugal dan Spanyol. Saat tingkat kepercayaan investor semakin memburuk karena krisis Eropa, Menteri Keuangan RI saat itu, Ibu Sri Mulyani mengumumkan pengunduran dirinya secara tiba-tiba Jumat, 14 May2010. Saat itulah IHSG mulai tergelincir sampai sekarang. Hal ini diperparah dengan sentimen negative yang terbentuk oleh pasar dalam
negeri terhadap saham-saham group Bakrie yang mendapat tuduhan tidak berpihak kepada investor-investor ritel karena selalu melakukan aksi korporasi HMSTD (Hak Membeli Saham Terlebih Dahulu, Right Issue). IHSG nyaris tidak pernah bangkit.
Saya menduga 90% investor saham tentu merasakan ketakutan dan kekhawatiran yang besar. Takut melihat warna merah yang menghiasi layar monitor tradingnya, dan khawatir warna merah tadi akan selamanya berwarna merah. Lain halnya bagi investor yang sudah memiliki rencana trading, dan saya menduga hanya sebagaian kecil dari mereka yang bingung harus berbuat apa di situasi seperti ini. Investor strategis tentu melihat sebagai suatu peluang disaat kondisi merah seperti ini. Mereka tentu telah memiliki rancangan portofolio yang terdiri dari beberapa saham. Mereka memiliki prinsip ”Trade My Plan, Plan My Profit!”. Saham-saham tadi tentu secara subyektif dipilih dengan beberapa perhitungan yang membuat portofolio tadi berisikan saham-saham unggulan, sekali lagi dengan subyektivitas si Investor. Investor berperan sebagai Personal Portfolio Manager atau Personal Manager Investment atau Personal Fund Manager. Dengan rancangan dan rencana tadi, mereka tahu harus
berbuat apa. Belanjaaaaaa!!! Karena it’s time to buy!! Alias mengoleksi saham-saham yang ada di portofolionya.
Pada kesempatan ini saya ingin berbagi isi keranjang investasi saya. Portofolio dalam artikel ini jangan dijadikan sebagai dasar mengambil keputusan berinvestasi. Rancangan portofolio ini adalah bersifat pribadi dan penulis ingin berbagi karena perhitungan dan pertimbangan rancangan portofolio dimaksud bersifat ilmiah dengan teori-teori investasi yang telah lama berkembang. Portofolio yang saya rancang menggunakan teori Portfolio SelectionMarkowitz. (http://books.google.co.id/books?id=T2PHRWxp_RkC&printsec=frontcover&dq=m... ).
Keranjang investasi saya berisikan saham-saham BNBR (7.50%), BTEL(7.50%), BUMI(7.50%), ELTY(3.59%), ENRG(3.38%), UNSP(7.50%), AALI(5.50%), ANTM(5.50%), ASII(5.50%), INTP(5.50%), PGAS(5.50%), PTBA(5.50%), SMGR(5.50%), UNTR(5.50%). Total alokasi aset di saham sebesar 90%. Sisanya berupa uang kontan yang saya taruh di produk-produk pasar uang. Komposisi saham-saham tadi saya peroleh dari proses optimasi dengan metode iterasi. Proses perhitungan tadi melalui penerapan teori Markowitz. Hasilnya adalah Ekspektasi Imbal Hasil Portofolio yaitu 73.50% p.a.; tingkat resiko yang dinyatakan oleh standar deviasi Portofolio yaitu 22.59%; lalu Beta (ß) Portofolio yaitu 1.17.
Riwayat waktu backtesting selama 4.5 tahun kebelakang dari komposisi saham-saham tadi dapat diperoleh informasi imbal hasil dan koreksi maksimum yang terjadi secara berurutan adalah 47.54% dan -39.38%. Informasi lain yang dapat diperoleh y.i. value at risk satu bulan sebesar -13.82% (VaR adalah nilai ambang batas resiko yang besarannya dihitung dengan interval persentase dari peluang yang scr empiris menggunakan 5% kemungkinan terjadi dari koreksi satu bulan yang terjadi, http://en.wikipedia.org/wiki/Value_at_risk). Dengan menggunakan VaR, bukan harga entry-level yang dicari melainkan besaran koreksi yang berpeluang terjadi dalam satu horizon waktu yakni satu bulan, yang dinanti. Terkoreksinya IHSG -16% per hari ini, portofolio saya terkoreksi -21.43%. Besaran itu memberi indikasi kepada saya untuk mulai mengkoleksi dan mengisi keranjang investasi saya dengan saham-saham pilihan karena koreksi portfolio saya telah menabrak VaR saya satu bulan. Dengan
komposisi porsi per saham yang ada, saya tinggal mengatur jumlah rupiah per saham dari total rupiah atau aset yang saya kelola. Sekali lagi, pilihan ini bersifat subyektif yang saya rancang dengan hitungan berdasarkan Teori Markowitz
Akhir kata, saya ingin memastikan bahwa artikel ini bukan merupakan petunjuk, ajakan ataupun perintah, dasar dalam mengambil keputusan berinvestasi. Penulis hanya semata-mata berbagi pengetahuan berinvestasinya di pasar saham dan sangat berharap masukan dan kritikan yang membangun. Dari tulisan ini, penulis juga berharap akan terbentuk diskusi yang lebih mendalam dan berkelanjutan tentang metode-metode berinvestasi di pasar saham yang lebih baik lagi. Salam Profit.
Arinto Muha Admojo
Investor Independen
Phone : 021-57982940