Berikut ini analisa situasi politik yang bisa saya buat berdasarkan pengamatan perkembangan yang ada. Saya merasa perlu memperhatikan perkembangan situasi politik khususnya berkaitan dengan kenaikan harga BBM karena hal ini tentunya akan memiliki pengaruh juga ke perkembangan saham dan tentunya IHSG di Bursa Efek Indonesia.
Pengumuman kenaikan harga BBM hari Jumat malam tanggal 23 Mei 2008 minggu lalu memang sempat mencemaskan beberapa pelaku bursa. Kekhawatiran mereka cukup beralasan. Mereka khawatir akan adanya demo-demo besar yang menentang kenaikan BBM yang bisa berujung pada kekisruhan nasional seperti yang pernah terjadi pada masa kejatuhan Soeharto dulu.
Kalau saya amati, tampaknya tidak ada elit politik yang berani menurunkan SBY saat ini mengingat masa pemerintahannya hanya tinggal sekitar 14 bulan lagi. Saya berani mengatakan demikian karena siapa saja elit politik yang mencoba menurunkan SBY saat ini makan usia elit politik tersebut di panggung politik akan tidak panjang umurnya alias tidak akan bertahan lama.
Para elit politik, tampaknya hanya ingin memanfaatkan situasi dengan mencoba menarik simpati sebanyak mungkin dari masyarakat bahwa mereka peduli dengan kesusahan yang dialami rakyat, bahwa mereka turut memperjuangkan suara rakyat untuk menentang kenaikan BBM.
Cara ini menurut saya memang sah-sah saja karena memang menurut saya inilah blunder (kesalahan langkah) terbesar yang dilakukan oleh tim SBY. Ibarat bermain catur, maka lawan akan segera memanfaatkan blunder yang dilakukan oleh lawan mainnya.
Para elit politik tampaknya akan lebih senang bertarung secara terbuka pada pemilihan presiden di tahun 2009 mendatang. Karena, dengan bertarung secara terbuka pada pemilu tahun depan, maka kemenangannya nanti bisa dipertahankan selama 5 tahun karena mereka memenangkannya secara konstitusi.
Hal lain lagi yang saya perhatikan adalah masyarakat cenderung terpecah-pecah. Ada yang pro dan ada yang kontra soal kenaikan harga BBM ini. Dalam situasi terpecah ini, tentunya menjadi penghalang untuk bersatu menggulingkan pemerintahan yang ada. Hitung-hitungan politiknya, kalau mau dipaksakan, sama saja dengan bunuh diri secara politik alias akan menjadi tidak tenar bila ada elit politik yang mau memaksakan SBY turun. Elit politik tersebut akan layu sebelum berkembang. Karena memperhitungkan hal ini tampaknya mereka akan berpikir seribu kali sebelum mengambil keputusan nekat tersebut.
Hal lain lagi yang mengecilkan kemungkinan SBY bisa diturunkan adalah masyarakat menyadari bahwa ada harga yang harus dibayar dan dirasakan oleh mereka secara langsung bila peristiwa seperti tahun 1998 terulang kembali. Masyarakat tampaknya tidak mau mengalami situasi susah yang sama seperti dulu. Apalagi sekarang ini pemilihan presiden dilakukan secara langsung. Selain juga jabatan presiden dibatasi hanya dua kali. Mereka pikir sudah cukup penderitaan bertahun-tahun mereka alami pasca peristiwa 1998. Sebagian dari mereka saat ini sudah dalam kondisi cukup mapan dan membaik. Tentunya mereka tidak ingin apa yang telah mereka miliki saat ini kembali dirusak hanya untuk alasan yang tidak jelas dan tidak kuat.
Lalu, apakah demo-demo mahasiswa dan LSM lainnya menjadi tidak perlu?
Menurut saya, demo-demo tersebut tetap diperlukan karena demo-demo seperti itulah yang akan membuat para elit politik dan pemerintahan lebih berhati-hati dalam membuat kebijakan. Mereka para pendemo adalah ujung tombak yang dapat mengawal agar agenda reformasi ini tetap berada pada jalurnya.
Tentunya, demo-demo yang saya maksudkan adalah demo-demo yang tidak anarkis. Polisi dan pendemo harus bisa bekerjasama agar bisa tetap saling menjaga keamanan. Para pendemo juga harus lebih berhati-hati agar kelompok demonya tidak disusupi pihak luar yang sengaja ingin memancing kekisruhan sehingga terciptalah alasan polisi untuk melakukan tindakan represif ke para pendemo.
Memperhatikan hal-hal di atas, saya berkeyakinan bahwa kenaikan BBM kali ini tidaka kan sampai membuat SBY digulingkan secara paksa dari jabatannya saat ini. Kalau tekanan-tekanan memang akan ada tampaknya. Baik itu berupa demo-demo ataupun nanti dari DPR.
Tim SBY tampaknya harus bekerja lebih giat dan lebih kreatif lagi untuk memperbaiki kesalahan selama ini. Tim ekonomi dari SBY boleh dibilang sangat tidak efektif dan sangat tidak kreatif dalam membuat kebijakan-kebijakan. Tampak sekali tim ekonomi SBY malas dalam berpikir, dan tidak mau repot. Padahal, masih banyak cara bisa diambil kalau alasannya hanya untuk menutupi defisit di APBN.
Saya tidak ingin membahasnya kali ini karena nanti akan jadi terlalu panjang tulisan yang sudah panjang ini.
Sekarang, kaitannya dengan IHSG kita.
Seperti yang kita ikuti bersama, IHSG mengalami penurunan dalam beberapa hari terakhir ini. Penurunan yang terjadi menurut pengamatan saya masih terbilang wajar setelah sebelumnya mengalami kenaikan-kenaikan yang cukup lumayan.
Penurunan-penurunan yang terjadi tampaknya bisa dijadikan peluang untuk masuk kembali.
Di level berapakah saatnya masuk yang tepat dan di saham apakah yang baik untuk investasi, saya tidak akan memaparkan secara detil kali ini. Cukup dengan mengatakan bahwa situasi politik akan aman terkendali, pemilu tahun 2009 akan tetap sesuai skedul alias tidak akan dipercepat karena peristiwa kenaikan BBM ini.
Irwan Ariston Napitupulu