Tingkat inflasi di Australia dirasakan masih tinggi dan perlu penanganan serius. Hal ini menyebabkan bank sentral Australia, Reserve Bank of Australia (RBA) memilih untuk tidak mengikuti langkah bank sentral Amerika menurunkan suku bunganya. RBA kemarin malah menaikkan suku bunganya dari 6.75% menjadi 7.00%.
Hal ini memberikan dampak langsung kepada nilai tukar kedua negara tersebut dimana mata uang Australia menguat terhadap mata uang Amerika. Perbedaan suku bunga kedua negara yang cukup mencolok, dimana FED pada level 3.00% dan RBA pada level 7.00%. Perbedaan suku bunga yang makin melebar ini membuat pelaku pasar melakukan pembelian Australian Dollar terhadap US Dollar. Saat ini nilai tukar AUD/USD berada di level 0.8960. Pasar memperkirakan AUD/USD masih akan menguat di hari-hari mendatang menuju level 0.9200-0.9400. Level tertinggi belakangan ini yang sempat tercapai adalah 0.9399 yang dicapat pada tanggal 7 November 2007 lalu.
Sementara itu, mata uang Euro dan GBP mengalami pelemahan terhadap mata uang USD dikarenakan pasar memperkirakan ECB (bank sentral Uni Eropa) dan BoE (bank sentral Inggris) akan menurunkan suku bunganya untuk mengantisipasi melambatnya perekonomian di Amerika.
Seumlah menteri keuangan dan gubernur bank sentral negara-negara yang bergabung dalam G-7, tanggal 9 Pebruari 2008 ini akan melakukan pertemuan di Tokyo, Jepang. Tampaknya diperkirakan tidak akan lahir di antara mereka kesepakatan untuk menurunkan suku bunga secara serentak. Walau demikian, cukup menarik untuk menunggu hasil dari pertemuan tersebut akhir pekan ini.
Irwan Ariston Napitupulu