Memaafkan Bernanke

Setelah beberapa bulan terakhir ini Bernanke selalu membuat pasar kecewa dengan keputusan-keputusannya yang menunda melakukan penurunan suku bunga, seminggu terakhir ini Bernanke sepertinya bertobat dan mengikuti kemauan pasar. Tampaknya Bernanke mulai menyadari bahwa situasi ekonomi Amerika benar-benar mulai serius menuju resesi. Bila tidak cepat ditangani maka akan benar-benar masuk resesi.

Kesalahan Bernanke tersebut atas lambatnya mengantisipasi situasi yang berkembang membuat kesejahteraan rakyat Amerika terancam. Perusahaan yang terancam bangkrut serta rasionalisasi yang terjadi di beberapa perusahaan akibat mulai lesunya ekonomi AS tentunya akan membuat pengangguran semakin bertambah. Pengangguran yang bertambah akan semakin membuat daya beli masyarakat semakin menurun.

Kesemuanya ini tentunya akan berdampak ke harga-harga saham di Wall Street. Saham-saham pun berguguran satu per satu. Seperti efek bola salju, jatuhnya harga-harga saham semakin memperburuk situasi karena masyarakat Amerika sebagian besar menaruhkan simpanannya dalam bentuk reksadana atau pun saham untuk persiapan pensiun mereka atau pun untuk kebutuhan lainnya. Penurunan harga-harga saham tentunya akan menurunkan nilai aset investasi mereka tersebut. Penurunan ini tentunya akan bedampak kepada keinginan belanja dari konsumen. Seperti kita ketahui bersama, ekonomi Amerika sangat bergantung pada belanja konsumen. Ketika minat belanja konsumen menurun, maka akan membahayakan laju ekonomi Amerika.

Karenanya, paket stimulus ekonomi yang saat ini menunggu persetujuan dari kongres akan membantu memulihkan kondisi ekonomi Amerika selain kebijakan yang sudah diambil oleh The FED yang walaupun terlambat tapi masih lebih baik dari pada tidak sama sekali.

Kini saatnya Wall Street memaafkan kesalahan Bernanke tersebut. Hukuman yang diberikan dengan kejatuhan harga-harga saham sudah saatnya dihentikan. Pemulihan harga-harga saham akan juga turun membantu memulihkan kepercayaan konsumen sehingga mereka siap untuk belanja kembali. Karenanya, tidak perlu menunggu kepercayaan konsumen pulih dulu, belanja konsumen pulih dulu baru harga-harga saham naik. Wall Street harus berani mengambil alih dengan segera memulihkan harga-harga saham yang telah terpuruk. Hal itu bisa dimulai minggu depan setelah beberapa perhelatan besar.

Akhir minggu ini, OPEC akan melakukan pertemuan. Diperkirakan pertemuan tersebut tidak akan mengeluarkan kebijakan baru terkait dengan produksi minyak. Diperkirakan OPEC akan mempertahankan total produksi minyaknya.

Hari Minggu ini, 3 Pebruari 2008, perhelatan besar lainnya, Super Bowl, akan dilaksanakan di negara bagian Arizona, Amerika. Final NFL, American Football. Olahraga ini adalah olahraga yang paling populer di masyarakat Amerika. Super Bowl kali ini akan mempertemukan New England Patriots vs New York Giants.

New England Patriots maju ke Final, Super Bowl, dengan rekor tidak pernah terkalahkan dari 16 kali pertandingan regular. Selama 16 kali bertanding, semuanya dimenangkannya. Sementara itu, NY Giants maju ke final dengan rekor pertandingan 10-6, 10 menang dan 6 kalah.

Perhelatan besar lainnya minggu depan adalah Super Tuesday tanggal 5 Pebruari 2008. Ini tidak terkait dengan pertandingan olah raga melainkan berkaitan dengan politik. Pada tanggal tersebut akan dilakukan pemilihan atas calon-calon presiden secara serentak di beberapa negara bagian. Hasil dari Super Tuesday ini sangat ditunggu oleh masyarakat Amerika karena akan bisa memberikan gambaran siapa calon presiden yang kemungkinan besar akan mewakili Partai Demokrat, dan siapa yang akan mewakili Partai Republik.

Calon manakah yang akan maju, dan apakah calon presiden tersebut adalah favorit nya Wall Street, akan segera kita ketahui setelah Super Tuesday, 5 Pebruari 2008. Sementara menunggu hal tersebut, nikmati terlebih dahulu Super Bowl tanggal 3 Pebruari 2008 antara New England Patriots vs New York Giants.

Bernanke, saya telah memaafkan kamu....:)

Irwan Ariston Napitupulu

Powered by Drupal - Modified by Danger4k