Harga Minyak Ditutup $93.53/barel

Harga minyak terus merambat naik mendekati angka sejarah baru, $100/barel. Memperhatikan pergerakannya, tampaknya angka $100/barel hanya tinggal menunggu waktunya saja.

Yang menjadi masalah saat ini adalah setelah $100 nanti tercapai, lalu akan kemanakah harga minyak tersebut? Ini yang menjadi pertanyaan banyak orang. Selain itu, apa dampaknya terhadap perekonomian dunia? Apakah akan terjadi resesi dunia, apakah inflasi yang tinggi karena kenaikan harga minyak akan menjadi masalah serius bagi ekonomi dunia?

Semua pertanyaan itu masih sulit dicarikan jawabannya. Karena sejauh ini kenaikan harga minyak seperti tidak digubris lagi oleh para trader, oleh para investor, oleh para spekulan. Banyak yang berpikir harga minyak yang tinggi tersebut akan menjadi masalah. Tapi anehnya, banyak yang tidak ingin ketinggalan akan momentum dari bullishnya harga komoditi maupun bursa.

Satu hal yang perlu diingat adalah semua akan ada akhirnya. Semua kenaikan-kenaikan ini suatu saat akan ada akhirnya. Yang menjadi masalah adalah kita sulit untuk mengetahui secara persis kapan semuanya ini akan berakhir.

Seorang Alan Greenspan memperkirakan bahwa akhir tahun ini ekonomi Amerika akan memasuki masa resesi. Bursa Amerika sempat terpukul, sempat terkoreksi cukup dalam. Tapi koreksi itu ternyata kemudian melahirkan rekor terbaru di indeks Dow Jones.

Bursa kita pun juga sempat terpuruk, tapi kemudian cepat pulih dan malah mengukir rekor baru.

Inilah kesulitan yang ada tampaknya yang dialami sebagian trader atau pun investor. Mau masuk, takut kejepit, takut nyangkut di atas. Tidak masuk, tapi harga-harga saham banyak yang naik. Keraguan para investor ini tampaknya dimanfaatkan oleh sebagian kelompok untuk terus mengerek harga saham. Bila ini yang terjadi, maka nanti pada saat orang-orang mulai merasa nekat masuk kembali, pada saat itulah 'bandar' akan membuang saham-saham tersebut sehingga akan lahirlah kelompok baru yang menamai dirinya "investor terpaksa", "investor kejepit", dan istilah lain yang sejenis yang intinya menjadi investor hanya karena posisinya nyangkut di atas, bukan karena niat awalnya mau jadi investor.

Korban-korban akan berjatuhan. Ini sudah hukum alam di dunia trading ataupun investasi. Bagi mereka yang lemah, bagi mereka yang hanya ikut-ikutan, bagi mereka yang tidak menguasai pengetahuan, mereka akan jadi santapan empuk.

Karena itu para pemain saham harus menguasai ilmu dasar dalam bermain saham. Harus bisa mengetahui mana saham yang valuasinya murah dan mana yang tidak murah lagi. Jangan beli saham karena si A beli saham XXXX. Juga jangan beli saham YYYY karena katanya mau begini begitu. Belilah saham karena kita yakin saham tersebut memang murah secara valuasi, karena saham itu memang punya prospek yang bagus, karena saham itu punya growth yang bagus, atau karena saham itu sedang memulai memasuki babak baru dalam bidang usahanya.

Semuanya tetap memiliki resiko. Semua tetap memilik kemungkinan membuat kerugian. Yang membuatnya berbeda adalah kita rugi tanpa usaha vs kita rugi dengan telah melakukan hal yang terbaik yang bisa kita lakukan. Tinggal kita memilih sendiri yang sesuai dengan kita, mana yang membuat kita merasa nyaman .

-IAN-

Powered by Drupal - Modified by Danger4k